Kamis, 31 Juli 2014

[Cerpen] Scortum et Mentula Meam



Disclaimer
 Untuk 18 atau 21 tahun ke atas. Pastikan anda cukup umur dan mental untuk membaca cerita satu ini.

***

Pelacur itu menggigit putus penisku. Aku mencarinya diantara gang-gang kelabu. Tempat para wanita lain ikut-ikutan mengobral malu. Menjaring setiap lelaki berhidung belang dan bermoral bau. Mendesahkan lendir dalam nikmat dosa yang membuat candu.
Semua karena istriku. Jeritku dalam hati. Ia tidak mau melayaniku. Bayi di dalam perutnya dapat terluka, ia beralasan. Dalam murkaku kutinju wajahnya. Siapa yang perduli dengan bayi itu. Mereka dapat dibuat kembali dalam kenikmatan. Tapi istri bodohku tidak mau percaya. Akhirnya kembali kuhias wajahnya dengan kuas bogemku sampai ia membiru. Bahkan lukisan Picasso pun tak dapat menandingi keindahannya.
Kubanting pintu rumah kami keras-keras ketika aku keluar. Biar semua tetangga tahu apa yang terjadi. Istriku tidak becus mengurus rumah tangganya sampai suaminya meninggalkan rumah. Asu! Teriakku kencang-kencang saat ku beranjak pergi. ASU! Teriakku berkali-kali sampai tetangga kiri-kananku keluar memenuhi jalan.
Mereka berusaha menanyaiku apa yang terjadi. Kemungkinan ingin mendapat bahan gosip terbaru saat ibu-ibu berbelanja sayur di pagi hari atau saat bapak-bapak beronda di malam sepi. Tapi aku terus beranjak. Ketika mereka mulai berbisik-bisik lagi di belakangku, aku mulai berteriak sekali lagi,
ASU!

***

Pelacur itu menggigit putus penisku. Aku mencarinya diantara gang-gang kelabu. Tempat para wanita lain ikut-ikutan mengobral malu. Menjaring setiap lelaki berhidung belang dan bermoral bau. Mendesahkan lendir dalam nikmat dosa yang membuat candu.
Aku berjalan di perempatan dosa. Tempat para wanita, lelaki, dan mereka yang terjebak ditengahnya menjajakan tubuh kepada para wanita, lelaki, dan mereka yang terjebak di tengahnya. Aku datang ke salah satu rumah bordil milik Fajar. Ia berpikir kalau aku adalah kawannya. Sedangkan aku berpikir kalau ia hanyalah sampah yang kerjaannya hanyalah menghargai tubuh manusia dalam rupiah yang bisa dibayar. Dasar bajingan.
Namanya Ratih, kata Fajar padaku. Umurnya lima belas tahun. Ranum, bagaikan buah terlarang yang ada di taman surgawi. Fajar berkata kalau ia masih perawan. Belum pernah tersentuh lelaki. Kecuali payudaranya tentu saja. Karena Fajar pasti sudah menjamah bagian itu. Tapi aku tidak perduli. Perawan atau tidak, selama ia punya lubang di bagian depannya dan payudara yang menggantung bebas. Aku bersedia. Dan bernafsu dengan lapang dada.
Fajar memanggil gadis itu ke dalam kamar. Seorang gadis berkulit putih dan berbibir merah merekah seperti mawar yang ditanam istriku di depan rumah. Kemaluanku berontak seketika. Fajar, selaiknya mucikari sejati, tahu apa yang terjadi padaku. ia menyuruh Ratih membuka dua kancing teratas dari kemeja ketat yang ia pakai. Menunjukkan belahan kewanitaan yang membuatku makin terangsang.
Dan kurasakan air liurku mulai menggenang.
Tawar menawar mulai berlangsung. Fajar menyebut tujuh digit angka. “Sudah lengkap dengan kamarnya, sobat,” obralnya padaku. Tapi aku tidak membawa uang sedemikian banyak. Kemudian ia berkata kalau Ratih akan diberikan kepada lelaki lain dan dia akan menawariku lubang yang berbeda, lebih murah dan lebih longgar tentunya. Tapi aku tidak mau. Aku ingin merasai Ratih malam ini.
Setelah beberapa saat berlalu, kesepakatan terjadi dan telah disetujui. Aku menggandeng tangan Ratih. Menariknya dengan tidak sabar. Keluar dari kamar tempat kami bertransaksi. Meninggalkan Fajar dan cincin kawinku sebagai alat pembayaran.

***

Pelacur itu menggigit putus penisku. Aku mencarinya diantara gang-gang kelabu. Tempat para wanita lain ikut-ikutan mengobral malu. Menjaring setiap lelaki berhidung belang dan bermoral bau. Mendesahkan lendir dalam nikmat dosa yang membuat candu.
Kemeja yang dikenakan Ratih kurobek dengan paksa. Membuat dua gundukan rahasia terbebas dari rahasianya. Seperti sepasang mata yang tadinya mengintip malu-malu, sekarang tengah melotot tanpa tanpa tertutup kelopak mata. Kedua hitam ditengahnya melotot ke arahku. Merayu-rayu tanpa menyimpan malu. Mengais-ngais sampai membuatku meringis.
Ratih terus menunduk. Diam-diam ia mengangkat tangannya dan menutup apa yang tersaji di hadapanku. Kupegang kedua lengannya dan kubanting ia ke tempat tidur. Ranjang reyot yang sudah berjuta kali merasai kulit telanjang para pasangan nista yang menidurinya. Ratih menjerit pelan, kedua tangannya melepaskan buah dadanya yang berguncang. Membuat nafsuku ikut menjerit pelan.
Kulepas semua kain dan benda tak berguna yang menutupi kaki beserta selangkangannya. Ahh, desahku pelan. Sebuah pintu surga menganga di depanku. Dari tempat seperti itulah aku dilahirkan. Kalau bisa, aku ingin masuk lagi ke dalamnya. Bersemayam dengan rapi dan menikmati hidup dalam sepi.
Ratih mengeluarkan campuran antara desah dan tangis dari mulutnya. Membuat kepalaku terasa terbakar. Kubasahi gelambir itu dengan kuas lidahku. Menjelajahi liangnya seperti manusia prasejarah yang baru menemukan gua baru untuk ditinggali. Makin lama suara tangisnya menghilang. Bibir atasnya semakin mendesah dan bibir bawahnya semakin basah.
Aku bahkan tidak tahu kapan jahitan kain yang menutupi tubuhku terbuka sudah. Tubuhku bebas menciumi angin, sama seperti ketika aku terlahir dulu. Polos seperti tubuh Ratih. Yang tengah kunikmati saat ini.
Kutarik tubuhnya dengan keras sampai ia terduduk. Menyentak desahan kaget keluar dari mulutnya. Aku berdiri dengan tegak. Setegak kemaluanku yang tengah berada tepat di kedua matanya. Dapat kulihat ekspresi yang tak tergambarkan memancar deras di matanya. Seperti mata ayam mati yang biasa dibeli istriku di pasar. Gelap, namun memberi sejuta iba di dalam kelamnya.
Hisap! bisikku lamat-lamat. Ia mulai menangis dengan semangat. Aku tarik rambutnya dan kujambak dengan erat. HISAP! Bentakku amat sangat. Mulutnya malah semakin merapat. Tak kuasa menahan nafsu yang menyayat. Kutampar pipinya sampai sakit terasa di telapak tanganku dan terus merambat.
Rasa sakit yang sama juga pasti merambat di pipi Ratih. Bahkan lebih, jeritan mengiris perasaan mulai terlolong keluar dari mulutnya. Sayangnya jeritan itu tidaklah berhasil mengiris nafsuku. Yang ada darahku semakin kencang mengalirkan libido yang bertumpah ruah mengisi venaku.
Setelah beberapa tamparan dan jeritan dan air mata. Ratih membuka mulutnya. Menyerah pada keadaan dan takdir yang membawanya padaku. Aku merasakan hangat saat mulutnya pelan-pelan merasuk. Menghisap kejantananku di kelembutan wanitanya. Tak sabar, aku menyodok pinggulku pelan. Membuat Ratih tersedak seketika.
Hangat, tubuhku bergetar pelan dalam kenikmatan yang tak dapat kugambarkan.
Hangat, keringatku mulai mengucur deras dalam ritme hisapan yang tak beraturan.
Hangat, pilar duniaku terasa hangat di dalam permainan yang Ratih tawarkan.
Tapi lama kelamaan, hangat itu berubah menjadi tak wajar dan mengkhawatirkan. Saat aku melihat ke bawah. Kepala ratih sudah mundur ke belakang. Kulihat darah mengucur pelan, alih-alih lendir yang mengandung jutaan bibitku. Pondasi kelelakianku menghilang. Mengendap pelan diantara gigi-gigi Ratih. Aku bahkan belum sempat menjerit ketika ia mendorongku jatuh. Badanku terjungkal kebelakang saat ia berlari meninggalkanku sendiri.
Terdengar suara lantai yang berdebam pelan. Seketika lalu lenyap, semua kebisingan yang kudengar. Otakku serasa dipijat oleh tangan lentik Dewi Aphrodite. Kejang penuh kenikmatan melanda tubuhku dengan kasarnya. Diam-diam aku melihat, semburan lahar putih mulai beterbangan di atas mataku. Berkas cahaya jingga dari lampu kamar ini berlarian melintasi membrannya.
Cerah! ujarku dalam hati. Hari ini awan terlihat cerah.

***

Pelacur itu menggigit putus penisku. Aku mencarinya diantara gang-gang kelabu. Tempat para wanita lain ikut-ikutan mengobral malu. Menjaring setiap lelaki berhidung belang dan bermoral bau. Mendesahkan lendir dalam nikmat dosa yang membuat candu.
Fajar dengan bodohnya menyuruhku tenang sementara ia menyuruh anak buahnya mencari pelacurnya yang kabur. Sementara aku masih menekan luka di selangkanganku dengan kain putih yang kini berubah menjadi merah. Ia mulai menanyaiku macam-macam. Sudahkah? tanyanya padaku. Aku menggeleng tak mengerti. Sudahkah kau menjebol liangnya?
Kutonjok pipinya kencang. Ia menjerit jatuh menghantam tanah. Kejantananku hilang dan ia malah memikirkan keperawanan pelacurnya. Kutendang perutnya cepat, berulang-ulang. Sebelum para penjaga rumah bordil yang kelebihan otot mendengar kalau orang yang menjongosi mereka kupukuli, kutarik kain merah dari selangkanganku. Kuremas pelan dan kusumpalkan langsung ke mulut fajar. Sementara ia tersedak oleh darahku yang mulai terkuras dari kain itu. Aku melangkah pergi. Keluar untuk mencari kelelakianku.

***

Pelacur itu menggigit putus penisku. Aku mencarinya diantara gang-gang kelabu. Tempat para wanita lain ikut-ikutan mengobral malu. Menjaring setiap lelaki berhidung belang dan bermoral bau. Mendesahkan lendir dalam nikmat dosa yang membuat candu.
Sejatinya, tempat ini berbau seperti sampah. Karena orang-orangnya bertindak seperti sampah dan dianggap seperti sampah. Maka tidak heran aku harus menutup hidungku rapat-rapat. Agar baunya tidak mencemari otakku saat menyusuri deretan lorongnya.
Aku berjalan tanpa tahu tujuan. Beberapa wanita berusaha menarik tangan yang tengah menutupi selangkangan berdarahku. Dengan kasar kutepis tangan mereka, sampai-sampai kami berdua menjerit kecil. Ia menjerit karena kaget dan aku menjerit karena lukaku yang kaget sehingga ia berdenyut sakit.
Kutengok ke bawah, darah masih mengucur dengan tenangnya. Otakku terasa lumpuh perlahan. Mungkin saja dia sudah kekurangan oksigen. Saat tatapanku masih mengarah ke bawah, aku melihat jejak darah melintas di jalan depanku. Tertutup genangan air dan muntahan berwarna kuning dan putih. Aku mengikutinya tergesa-gesa. Seorang lelaki gemuk telanjang tergeletak menghalangi jalan. Ia mencengkeram ujung celanaku saat aku lewat. Tolong, bisiknya pelan. Nafsuku mati rasa.
Kutendang kakiku kearah mukanya. Meninggalkan lesakan dalam di antara kedua matanya. Ia menjerit terpendam. Saat aku kembali beranjak ia berteriak lantang-lantang, penismu sudah hilang. Jangan kau cari, ia tak sudi menempel di tubuh lelaki jalang.
Tanpa kupedulikan, aku terus mengikuti jejak darah yang kulihat. Lama-lama semakin mengecil. Lalu menghilang di depan sebuah bangunan tua yang terbengkalai. Tubuhku semakin lemas. Kesadaranku berusaha melepaskan diri sedari tadi. Namun aku harus terus melangkah. Tonggak kebanggaanku harus tak boleh hilang begitu saja.
Kutelusuri gedung itu, sepertinya bangunan ini akan dihancurkan. Gelap dan kelam menyapa diriku. Membuat tubuhku hilang dalam malam. Telingaku menjadi awas. Kudengar suara-suara rintihan yang membuat kudukku berdiri pelan. Tiba-tiba saja aku melihat sosok wanita duduk di tangga beton yang rusak. Saat aku mendekat, ia berdiri dengan cepat. aku tidak dapat melihat dengan jelas mukanya. Tapi melihat bentuk payudaranya. Aku tahu itu Ratih. Pelacur yang menggigit putus penisku.
Kembalikan, ujarku parau. Kembalikan!
Aku maju selangkah, ia mundur dua langkah. Tubuhku semakin lemas. Dengan ratapan yang entah datang darimana, aku mencoba untuk membujuknya.
Tolong, kembalikan. Tanganku terjulur padanya. Tolong.
Akhirnya ia mendekat. Cahaya bulan mulai menampari wajahnya. Membuatku dapat melihat dengan jelas. Serpihan darah kering terjiplak keras di sekitar dagunya. Ia membuka mulutnya, dapat kulihat sebatang daging berwarna cokelat terkulai lemas di atas lidahnya. Dengan tidak santainya, isi perutku berlari keluar menuju mulutku. Beterbangan menodai lantai kelabu.
Tolong, ujarku pelan sesaat kemudian. Kembalikan.
Ia mulai berbicara, namun aku tidak dapat mendengar jelas ucapannya. Setelah beberapa kali ia berkata, akhirnya dapat kudengar jelas apa yang ia ucapkan.
Tolong, racaunya. Kembalikan.
Aku mengangkat satu alisku. Tidak mengerti apa yang ia bicarakan. Apa?
Kembalikan. Ia mendekat. Menjulurkan tangannya padaku. Seperti pengemis di tengah perempatan. Akhir ia menjelaskan pertanyaaannya padaku. Meminta sesuatu yang tak dapat kuberikan padanya.
Kembalikan, kembalikan dulu harga diriku.
Aku terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Saat tubuhku tak kuasa lagi menahan kesadaran. Ia menutup mulutnya rapat. Hal terakhir yang kulihat adalah tenggorokkannya yang menelan penisku sebelum akhirnya aku terjatuh.
Masuk ke dalam kegelapan dan tidur. Mungkin untuk selamanya.

Sabtu, 08 Februari 2014

20~13 Best Female Character of 2013.

2013 sudah lewat lebih dari sebulan yang lalu. Tapi bagi lelaki yang sulit move on seperti penulis, 2013 masih menyisakan banyak kenangan. Dan bagi lelaki yang mencintai makhluk pembawa kromosom X ganda. 20 karakter ini adalah karakter yang membuat tahun 2013 menjadi lebih berwarna lagi. Bukan karena kecantikan mereka semata. Tapi karakter yang ada mampu menyentuh dan menggerakkan hati para penonton, bahkan menunjukkan bahwa menjadi wanita tidak harus selalu tunduk pada peraturan yang mengekang (dan terkadang para lelaki yang juga tidak memandang wanita sebagai partner yang setara). 

Siapakah mereka? Inilah dia:

20. Adèle (Blue is the Warmest Colour)


19. Marie Brisson (Le Passé)


18. Queen Elsa (Frozen)




17. Lilly Desange (Mama)
16. Mariko Yashida (The Wolverine)
15. Nicki Moore (The Bling Ring)

14. Sydney Prosser / Lady Edith Greensly (American Hustle)

And now the top 13:

13. Epp (The Croods)
Gak ada yang bisa mengalahkan keseksian dari seorang wanita tangguh. Apalagi wanita yang berisi dan tidak terlalu kurus sampai-sampai akan terbang karena tertiup angin. Epp adalah seorang wanita gua, anak tertua dari keluarga Croods. Yang suaranya diisi oleh wanita cantik bermata eksotis, Emma Stone.
Epp adalah tipikal black ship on her family, pemberontak dan sangat ingin melihat dunia luar. Sedangkan menurut bapaknya dunia luar itu berbahaya. Iyalah, secara seting film ini adalah jaman dinosaurus dimana masih ada macam bercorak seperti kakaktua dan burung seperti piranha dan ikan paus yang udah naik ke darat namun belum cukup berevolusi untuk menumbuhkan kaki.
Favorite Scene / Moment: Saat muka Epp ter-amaze banget karena melihat api yang pertama kali dibawa Guy.

12. Katniss Everdeen (Hunger Games: Cathing Fire)
Katniss tidak berada di peringkat 12 karena dia berasal dari District 12. Bukan, tolong jangan berprasangka buruk dulu.
Masih melanjutkan petualangannya setelah Hunger Games yang pertama, kini Katniss harus kembali ke dalam tirani Capitol yang kejam dan berjuang untuk meredam api pemberontakan di semua district karena percikan yang dia kobarkan di Hunger Games yang ke 74.
Sepertinya kita memang tidak usah lagi meragukan akting seorang Jennifer Lawrence. Dan ditangannya, karakter Katniss Everdeen bukan saja menjadi menarik secara bayangan oleh para pembaca bukunya. Tapi menjadi karakter yang semakin solid karena diperankan dengan sangat mumpuni olehnya.
Favorite Scene / Moment: Adegan paling terakhir dari film ini. Ekspresi Neng Jennifer lauh lebih berwarna dan bercahaya dibandingkan aktris sebelah yang selalu mendapat Razzie setiap kali filmnya muncul.

11. Wadjda (Wadjda)
http://b.vimeocdn.com/ts/383/718/383718283_640.jpg
Adalah seorang gadis biasa yang memiliki mimpi yang bisa dikatakan tidaklah terlalu luar biasa. Memiliki sepeda sendiri. Tapi bocah ini tinggal di Arab Saudi. Dan di negara tersebut wanita tidak boleh menaiki sepeda, menyetir mobil, bahkan memakai nail polish.
Tapi Wadjda adalah gadis luar biasa. Ia dengan gigih berusaha untuk mengumpulkan uang sedikit demi sedikit demi bisa membeli sepeda hijau yang selalu dilihatnya di toko. Karena orang tua Wadjda tidak berkenan membelikannya.
Film ini memang mengusung semangat kewanitaan yang membara. Dari tokoh Wadjda, sampai tokoh ibunya yang tengah galau karena suaminya sekaligus ayah dari Wadjda akan menikahi wanita lain karena ia tidak dapat memberikan suaminya anak laki-laki. Dan sudahkah saya bilang kalau sutradara film ini adalah perempuan asli Arab Saudi? Yang bahkan sebenarnya tidak diperbolehkan menyutradarai film.
Favorite Scene / Moment: Saat Wadjda disudutkan untuk memberikan uangnya buat para Korban Palestina. Itu gurunya serasa pengen dicakar-cakar. Untung gurunya tsakep. Jadi gak tega juga. :3

10. Dr. Ryan Stone (Gravity)

Premise film ini cukup menarik, sangat menarik malahan. Dua orang astronot terombang-ambing di luar angkasa setelah stasiun luar angkasa mereka hancur. Tapi selain premis dan penyutradaraan Cuarón yang memang luar biasa, well, he got nominated for Oscar to backed my opinion. Tapi penampilan Sandra Bullock sebagai Dr. Ryan Stonelah yang memberikan nilai plus di film ini.
Sebagai lead dari Gravity, karakter Dr. Ryan Stone memang memukau. Teriakan dan desahan napasnya yang membuat penonton tegang sampai kekaleman dan kejernihan tindakannya yang membuat kita terkesima. Hey, manusia memang akan melakukan apa saja untuk bertahan hidup kan.
Favorite Scene / Moment: saat Dr. Ryan Stone melepas space suitnya dan memperlihatkan lekuk tubuhnya yang sangat sempurna. Errr, sebenarnya bukan itu sih intinya. Intinya adalah adegan itu simbolisme banget, seperti janin dalam tubuh manusia. Ditambah Dr. Ryan Stone meringkuk dalam posisi janin dan ada kabel-kabel melayang seperti ari-ari.

9. Patsey (12 Years a Slave)

Seorang budak kesayangan karakter yang diperankan Fassy (iya saya lupa nama karakternya). Casey ini sebenarnya tipikal wanita pemberontak. Karena seiring waktu dia menyadari kalau dirinya lebih dari dari seorang budak. And i do believe we’re all love her because of that.
Favorite Scene / Moment: Adegan penyambukan yang diambil dengan satu long shot. It was freaking awesome, bukan penyambukannya ya, tapi akting dan atmosfirnya itu miris banget sampai jatuhnya awesome banget.
:').

8. Carrie White (Carrie)

Seorang gadis yang tersakiti oleh para Bully di sekolahnya. Disiksa pula oleh ibunya di rumah. Tapi di luar kemalangan-kemalangan itu Carrie mempunyai kekuatan telekinesis saat mendapat menstruasi pertamanya. Kalau kalian berpikir tetiba Prof. X datang mengetuk rumah keluarga White dan mengajak Carrie untuk masuk dan menjadi teman telekinesis Jean Grey. Hohoho, kalian salah besar. Karena ini bukanlah film action. Ini murni film horor.
Yang membuat karakter Carrie menarik adalah, tidak seperti lead female character di sinetron negeri ini yang kalau disiksa maka akan semakin banyak adegan mereka Shalat sambil berlinang air mata. Carrie actually stand up for herself. Dan bukankah itu yang sebenarnya harus disampaikan? Bahkan setiap kemalangan dapat kita atasi kalau kita berjuang, bukan demi orang lain, tapi demi diri sendiri. Love yourself first, and everybody around you will love you.
Favorite Scene / Moment: Saat Carrie menangis di locker room setelah diajak ke Prom oleh Tommy. Entah kenapa adegan itu menyentuh banget.

7. Gong Er (The Grandmaster)

Seorang cucu dan pewaris jurus silat 64 tangan. Gong Er adalah gambaran nyata seorang wanita tegar dan tahu apa yang ia mau. Bahkan di jaman dan negara dimana wanita terkadang kurang dianggap. Menjadikan Gong Er suatu sosok yang sangat penting.
Favorite Scene / Moment: Saat Gong Er kembali bertemu dengan Yip Man si salah satu adegan flasback dan mengucapkan kalau dia sebenarnya menyukai lelaki itu. Kemudian mereka keluar dan Gong Er memandang salju yang perlahan jatuh. Seakan semakin membekukan hatinya karena sejatinya Gong Er tidak boleh menikah ataupun mempunyai anak demi membalaskan dendam guru sekaligus kakeknya. Ah, ekspresinya sangat membuat galau sekali.

6. Little Mako Mori (Pacific Rim)
Rinko Kikuchi memang berhasil dalam memerankan karakter Mako, pilot Jaeger dalam film Pacific Rim. Tapi yang tidak disangka-sangka, justru karakter bocah Makolah yang menarik perhatian.
Diperankan oleh Mana Ashida. Mako kecil memang hanya mendapat adegan yang tidak terlalu panjang dari keseluruhan durasi film. Namun akting sungguh luar biasa sangat. Sehingga penonton bisa dapat merasakan sensasi ketegangan dan ya-Tuhan-itu-anak-lucu-banget pada saat yang bersamaan.
Favorite Scene / Moment: Udah deh, adegan yang ada little Mako itu cuma sebiji dan itu favorit banget.

5. Aimee Finecky (Spectacular Now)
Baik, polos, dan tetap tsakep walaupun tidak memakai make up. Itulah Aimee, semua kualitas itu mampu membuatnya dilirik oleh cowok populer di sekolahnya, Sutter Keely. Walaupun agak membingungkan kenapa si Sutter bisa menjadi populer melihat semua kualitas yang sepertinya tidak ia punyai. Tapi ya sudahlah, kita hanya akan membahas Aimee di sini.
Diperankan sangat baik oleh Shailene Woodley. Agak sedikit pangling sebenarnya, karena saya terakhir melihatnya bermain di The Descendants sebagai Alex yang 100% kontradiktif dengan Aimee, Bitchy namun sangat ngangenin.
Dan ahh, lagi-lagi saya tidak mengerti kenapa gadis secantik dan sebaik Aimee harus dipasangkan dengan Miles, errr, Sutter maksudnya.
Favorite Scene / Moment: Ketika Aimee belajar cara mengatakan “Mom, get off my motherf#cking back!” So F#cking Adorable.

4. Jingga (Belenggu)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiNQ3ZegN1QkH4OdNJEFSSGGfnGiM0DzDEstjF6jBGi8ba7nkxpNDvzDy0B9E7NkSmHoacGldK5ZWRFKvoZQkRq3-4kLYentt3Sgm9v7iPGw5YVsnr2E-0Bw8P3PFz-jow2zpd1yKx1Skxx/s1600/2.jpg

Film yang sejatinya banyak menuai pujian di FFI kemarin. Dan kedua aktris utamanya mendapat nominasi sebagai aktris terbaik tapi kalah. Yang perlu diperhatikan di film adalah sosok Jingga yang diperankan dengan sangat baik oleh Imelda Therine. Sosok Jingga adalah wanita yang selalu muncul dalam mimpi Elang, tokoh utama dalam film ini. Dan kemudian muncul juga di kehidupan nyatanya.
Jingga sangat seduktif, apalagi tatapan matanya yang akan menarik kalian kaum lelaki (dan mungkin sebagian kaum wanita) masuk ke dalam dunia imajinasi tanpa batas (tsah). But seriously, sebelumnya saya tidak pernah menyangka kalau Imelda Therine bisa menghidupkan sosok Jingga dengan luar biasa. Saya tidak bisa memikirkan aktris lain di Indonesia yang dapat memainkan Jingga seperti seorang Imelda. Kudos to her!
Favorite Scene / Moment: Salah satu “dream sequence” dimana Jingga menjadi penari yang diperebutkan, dan sepertinya dilecehkan, beberapa lelaki. Ekspresi muka seorang Imelda sangat sensual dan terluka pada saat yang bersamaan. Oh my.

3. Rayon/Raymond (Dallas Buyers Club)

Sebelum kalian protes karena adanya tokoh Raymond di list ini. Let's be honest, karakter Rayon sebagai lelaki transgender really moved you. Dan saya rasa Rayon sangat berhak untuk masuk ke dalam list Best Female Character of 2013.
Raymond, atau yang biasa dipanggil Rayon, adalah seorang transgender pengidap HIV dan partner bisnis dari Ron Woodroof. Entah mengapa karakter ini membuat saya bersimpati walaupun mendapat porsi hanya sebagai peran pembantu. Bahkan karakter ini membuat saya lebih tertarik mengikuti film ini dibanding karakter utamanya, Ron Woodroof.
Favorite Scene / Moment: Saat Rayon sedang depresi dan mengucapkan ini
God, when I meet you,
I’m gonna look pretty
if it’s the last thing I do.
I’ll be a beautiful angel.
*Shed manly tears :’)

2. Katrina Dubrovsky / Mother Russia (Kick Ass 2)
Tangguh, perkasa, dan pernah memakan teman satu selnya. Dan jangan lupa tubuhnya yang berotot, membuat saya malu dengan lemak-lemak di tubuh ini. Rasa-rasanya tidak akan ada satu lelaki pun yang berani bermain-main dengan wanita satu ini. Dia adalah penjahat yang direkrut untuk menjadi Femme Fatale oleh Chris D’Amico. Dan mungkin satu-satunya orang yang dapat menandingi kehebatan dari Hit Girl.
Saran dari saya adalah, cobalah sekali-kali kurangi kegarangan dirimu, Mother Russia. Atau dikau akan menjadi perawan tua karena tidak ada lelaki yang berani mendekatimu.
Favorite Scene / Momen: Kill-The-Police-Athon. Nuff said.

1. Samantha (Her)
Ahh, membicarakan Samantha seperti membicarakan cinta sejati, bahwasanya tidak memerlukan wujud. Cukup butuh sosok (dan suara yang seksi tentunya) yang mengerti apa yang kamu rasakan. Maka rasa-rasanya ditinggal berdua saja di dunia ini sudah cukup. Karena itu jangan heran kalau seorang Theodore sampai begitu cinta mati ke Samantha.
Tapi siapakan sebenarnya Samantha ini? Ia hanyalah sebuah suara dari Operating System (OS). Tapi karena film ini berseting di masa depan, tentu saja suara komputer ini memiliki kelebihan. Dan yang paling muktahir adalah Operating System ini dapat terus belajar dan bahkan merasakan emosi, bahkan sampai jatuh cinta.
Tapi pujian yang setinggi-tingginya harus diapresiasikan kepada Scar-Jo (sengaja disingkat karena penulis tidak mengerti spelling nama belakang Scarlet dan terlalu malas untuk menggugel). Yang bahkan suaranya saja sudah ekspresif dan seksi sekali. Sampai-sampai terbawa dalam mimpi.
Favorite Scene / Moment: saat Theo dan Samantha bercinta pertama kali. Saat jauh dari kesan phone sex. And seriously, desahan Scar-Jo membuat dunia seakan jungkir balik.

P.S. Karena Samantha tidak bersosok, maka akan saya berikan gambar dari Scar-Jo. Cheers.



























>,<

Rabu, 24 Juli 2013

Confessions, A Thriller Movie From The Land of Rising Sun



    
       Film dengan tema revenge atau balas dendam memang sering diangkat dalam genre thriller. Contohnya saja film The Last House on the Left atau I Spit on Your Grave, yang masing-masing film sudah dibuat remake. Berlari ke arah asia, ada Park Chan Wook yang berhasil dengan The Vengeance Trilogynya. Film yang akan kita bedah kali ini berasal dari negara tetangga negeri ginseng, Confessions atau yang dalam bahasa aslinya berjudul Kokuhaku (告白)
Ceritanya sendiri diangkat dari novel misteri karya pengarang debutan Kanae Minato pada tahun 2008. Dan pada tahun 2010, versi filmnya keluarnya. Film juga merupakan Japan’s Entry for Best Foreign Language Film atau film berbahasa asing terbaik untuk pagelaran Oscar yang ke-83. Sayangnya film ini hanya berhasil masuk shortlist dan gagal meraih posisi nominasi.
Confessions disutradarai oleh Tetsuya Nakashima. Yang salah satu filmnya, Memoirs of Matsuko adalah my sentimental best Japanese Film of all time. Dan membuat saya jatuh cinta pertama kali dengan perfilman Jepang.
Film ini sendiri bercerita tentang guru sekolah menengah pertama bernama Yuko Moriguchi (Takako Matsu). Yang ingin membalas dendam kematian anaknya pada dua orang muridnya. Namun mengingat dua orang pelaku ini masih di bawah umur dan tidak akan dikenai sanksi apa-apa atas perbuatan mereka. Maka Moriguchi Sensei pun membuat satu plot untuk membalaskan dendamnya.


Dalam kisahnya, anda akan menjumpai beberapa sudut pandang cerita. Atau pengakuan-pengakuan (Hence the title is confessions, with s) yang bergulir dan membuat anda akan mengerti latar belakang dan motif setiap tokoh untuk melakukan perbuatan yang mereka buat di sepanjang cerita.
Mungkin itu saja gambaran umum yang akan saya ceritakan. Akan lebih asyik jika anda mengetahui sedikit saja cerita dari film ini agar tidak menghilangkan faktor surprise saat menontonnya nanti.
Yang perlu anda ketahui adalah, film ini sangatlah gelap. Segelap masa depan karir keartisan Arya Wiguna beberapa bulan kedepan. Tema yang diangkat sangatlah membuat galau dan depresi. Bullying, penyiksaan terhadap binatang, dan pastinya pembunuhan akan anda jumpai di film ini. Juga tema tentang kehilangan dan kasih sayang ibu terhadap anaknya.

Confessions menjadi menarik karena kekuatan akting dua orang remaja yang terlibat di dalamnya. Ai Hashimoto sebagai Mizuki Kitahara dan Yukito Nishii sebagai Syuha Watanabe bermain dengan apik di sini. Bahkan berhasil menandingin kemampuan akting Takako Matsu sebagai Female Lead. Namun sayangnya saya menganggap bahwa akting dari aktor atau aktris di Jepang memang terkadang bisa menjadi terlalu over. Hal inilah yang terjadi pada akting Masaki Okada yang berperan sebagai Yoshiteru Terada dan Kaoru Fujiwara sebagai Naoki Shimomura. Jika saja mereka dapat menahan akting mereka sedikit saja di sini. Saya mungkin tidak akan tertawa mengingat ini adalah film thriller, bukan komedi.
Seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya. Tone film ini sangat bleaky. Dan gaya penyutradaraan Tetsuya Nakashima sangat berubah dari Memoirs of Matsuko yang cerah dan cheerful menjadi dark dan gloomy di film ini. Sinematografi yang sangat depresif, langit yang gelap, senja yang mulai kehilangan matahari, dan hujan di suramnya hari mendominasi film ini.
Dan yang sangat stand out di film ini tentu saja rajutan ceritanya. Film ini menggunakan multiple point of view yang akan menggambarkan efek dari kejadian balas dendam Ibu Guru Yuko, sebelum dan sesudah kejadian. Dan Tetsuya Nakashima sangat sabar dan tidak terburu-buru menjabarkan semua ceritanya.
Akhir kata, film ini tidak akan terlepas dari kekurangan. Mungkin pace filmny yang lambat tidak cocok bagi orang-orang yang menyukai thriller yang berirama cepat dan menggebu-gebu. Tapi toh jika anda sabar membuka simpul ceritanya, anda akan manggut-manggut di akhir cerita dan berkata,” なんて!
>,<