Minggu, 04 Januari 2015

20~14 Songs of 2014





Hey, 2014 sudah berakhir dan ada begitu banyak lagu dan single serta album yang dirilis tahun lalu. Sebelum menyongsong 2015 dan lagu-lagu baru yang akan diluncurkan. Berikut adalah 20-14 lagu yang menjadi puncak pemuas eargasm tahun ini. Silahkan dengar countdownnya di link soundcloud di bawah ini jika malas membaca dan ingin mendengar potongan lagunya. Atau juga silahkan langsung melihat listnya di bawah.




Out of List


-       Jessie J, Ariana Grande & Nicki Minaj – Bang Bang


-       Rainbows and Starlight - Adhitia Sofyan


-       Let It Go – James Bay


-       Take Shelter - Years & Years


-       Lost Stars – Adam Levin


 -       Memory - Asher Monroe (Ft. Chris Brown)



14. If These Walls Could Talk – Christabel Annora
List ini dibuka dengan sebuah Ballad yang ditulis dan dinyanyikan oleh pianis asal malang yang bercerita tentang anti kekerasan pada anak-anak dan orang dewasa akan kekerasan yang terjadi di sekitar kita. Christabel Annora sendiri sampai sekarang belum merilis album dan masih betah merilis lagunya di soundcloud. Lagu-lagu yang diciptakannya sendiri dan beberapa cover dari lagu musisi lainnya


13. Dear Nicole – Frankmusic
Sebuah single yang dirilis di hari valentine tahun lalu. diambil dari album keempatnya yang berjudul By Nicole. Solois ini bernama asli Vincent James Turner dan mengadopsi nama panggung barunya yakni Frankmusic pada tahun 2011. Nama Frank sendiri dia ambil dari nama baptis kakeknya. Sesuai dengan lirik lagunya, video musik Dear Nicole difilmkan di Stuttgart, Jerman.

12. Beyonce - Pretty Hurts
    
Apa jadinya jika seorang Beyonce mengkritik standar kecantikan yang ada di masyarakat dunia sekarang. Dalam lagunya barunya yang berjudul Pretty Hurts ini sang diva kembali mencuri perhatian. Perlu diingat bahwa ada dua versi lagu ini, satu bertempo cepat dan satu bertempo lambat. Dua-duanya sama-sama bagus, preferensi tempo andalah yang dapat menentukan mana yang lebih bagus.


11. Thinking Out Loud – Ed Sheeran
 
Ed Sheeran harus belajar menari demi video klipnya yang menampilkan dirinya dan penari Brittany Cherry berdansa ballroom. Tariannya sendiri dikoreografikan oleh Nappytabs, penggemar SYTYCD pasti kenal siapa mereka. Ed Sheeran yang juga merupakan penulis lagu merilis album keduanya yang bertajuk X (multiply) tahun ini


10. Ordinary Human – OneRepublic
 
Band yang satu ini memang menelurkan satu album di tahun 2014 dengan judul Native. Namun lagu yang masuk ke dalam list ini adalah lagu yang mereka tulis untuk film berjudul The Giver. Kebanyakan orang mungkin menyukai Counting Star, I lived ataupun Something I Need. Tapi di daftar ini, Ordinary Humanlah yang berada di posisi delapan.


9. Lovers of New York – Rubylux Ft. Lee Ryan
 
Di nomor sembilan, adalah sebuah band pop-rock asal Brighton, England yang beranggotakan empat orang, Rob Irving (vocals/guitar), Cark Coslett-Hughes (bass), Adam Harris (keyboards), dan Mike Hall (drums). Dalam single ini mereka berkolaborasi dengan salah satu member dari Blue, yakni Lee Ryan yang sudah lama vakum mengambil kerjaan diluar boybandnya tersebut.

  
8. Host of Angels – Taylor Henderson
 
Sebuah lagu yang ditulis khusus bagi adik perempuannya agar ia mampu menghadapi perceraian kedua orang tuanya sendiri. Taylor adalah jebolan Australia Got Talent dan X-Factor Australia. Lagu Host of Angels diambil  dari album terbaru Taylor yang berjudul Burnt Letters. Lagu ini ia tulis saat berumur 15 tahun dan menurutnya lagu ini adalah salah satu lagu termudah yang ia tulis karena musik dan liriknya yang sangat personal bagi Taylor.


7. Dirt – Florida Georgia Line
 
Meraih kesuksesan dengan album perdana dan lead singlenya berjudul Cruise tahun lalu. Duo Country yang tahun ini merilis album kedua mereka yang bertajuk Anything Goes. Single Dirt sendiri pada perilisannya berhasil merajai Billboard Hot Country Songs number-one single. Single ini menceritakan tentang kehidupan manusia yang terjadi di atas tempat kita berpijak, tanah (dirt)


6. Leave Your Lover – Sam Smith
 
Sebuah lagu yang sepertinya didedikasikan bagi para kaum patah hati sedunia. Sam Smith mendapat julukan male version of Adele dan berhasil mendapat nominasi Grammy terbanyak di tahun ini, bersaing dengan Beyonce dan Pharell Williams. termasuk diantaranya record of the year dan song of the year.


5. Take Me To Church – Hozier
 
Entry pertama di lima besar. Sebuah lagu yang juga berhasil mendapat nominasi dalam Song Of The Year Tahun ini. Take Me to Church yang dinyanyikan oleh solois asal irlandia ini sangat puitis dan memakai banyak metafora di dalam liriknya. Hozier ini juga menyanyikan lagunya dalam pagelaran Victoria’s Secret Fashion Show tahun ini.


4. Battle Cry – Imagine Dragons
 
Satu lagi soundtrack yang berhasil masuk ke dalam list ini. Iramanya yang mengentak dan suara dahsyat Dan Reynolds menyatu dengan apik dalam single yang diberi judul Battle Cry ini.. Lupakan filmnya dan dengarkan lagunya, yang sepertinya salah penempatan dalam film Installment terbaru Transformers, Age of Extinction.


3. Chandelier – Sia
 
Single ini sebenarnya ia tulis untuk Rihanna atau Beyonce. Tapi untung saja penyanyi dan pencipta lagu asal Australia ini memutuskan untuk menyimpan lagu ini untuk dirinya sendiri. Lagu yang sejatinya susah untuk dinyanyikan di tempat karaoke ini berjudul Chandelier yang dibawakan oleh Sia.


2. Oblivion – Bastille
Posisi Runner Up ditempati oleh sebuah band yang namanya sepertinya diambil juga dari nama sebuah benteng yang ada di kota paris. Sebuah final single dari album kedua mereka yang berjudul Bad_blood. Dan penggemar serial Games of Throne pasti akan bersorak gembira bila melihat model yang mereka pakai dalam video klip single ini.


1. Invisible – Hunter Hayes
 
Pada akhirnya, sebuah lagu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata. Tapi juga dapat membawa pesan yg mendalam bagi penyanyi maupun pendengarnya. Single ini bercerita tentang pengalaman Bullying yang dialami sendiri oleh penyanyi yang beraliran Country ini. pertama kali diperdengarkan dalam ajang Grammy Award 2014. Sebuah lagu yang personally menemani di saat-saat sendiri tahun ini.
 

Jumat, 02 Januari 2015

Top 14 Best Short movie from 2014




Dapat ditebak, satu-satunya film pendek yang meledak tahun ini di Indonesia hanya satu. Apalagi kalau bukan Ada Apa Dengan Cinta. Membuktikan dengan keabsahan yang tak tebantahkan kalau warga Indonesia sebagian besar adalah golongan gagal move on. Ditambahkan lagi tingkat kekepoan yang luar biasa besar. Ditunjukkan dengan besarnya animo masyarakat untuk mengetahui kelanjutan hubungan Cinta-Rangga dan sejauh mana kecantikan Alya bertambah. 

Back to topic, sebenarnya banyak sekali film pendek yang bagus tahun ini. Beberapa berasal dari Vimeo. Yang sampai saat ini masih saja diblok dengan alasan yang tidak jelas. Mungkin akan dibuka bersama-sama dengan dikeluarkannya si hamster dari dalam kandang. Berikut adalah 14 film pendek yang menurut hemat kami bisa anda tonton di waktu luang. Dan hebatnya lagi semua ini bisa ditonton gratis.

Because everyone love free things.

Keempat belas film pendek ini telah teruji secara teknis dan cerita mampu membuat penulis tertawa bahagia, menangis terenyuh atau termenung bego. Kenapa cuma empat belas film? Karena pas sekali dengan tahunnya. Jadi tahun depan mungkin akan dibuat 15 film dan seterusnya.

Karena ternyata banyak yang memprotes seputar video yang ternyata tidak terload sempurna di halaman ini. Maka silahkan mengklik judul film masing-masing, maka tab baru berisi film tersebut akan terbuka secara otomatis.

Without further ado, here they are.


Dimasa depan, ketika mesin waktu sudah ditemukan dan para cabe-cabean plus terong-terongan partygoers entah mengapa sepertinya terkena prank dari teman-teman masa depan mereka. Tentu saja Ashton Kutcher tidak akan keluar sambil teriak you’ve got punk’d. Karena film pendek ini berasal dari Autralia.



Bukan, film pendek ini masuk ke dalam list ini bukan karena ada Amanda Seyfried di dalamnya. But anyway, who needs Amanda Seyfried if they have a dog. But seriously, i’d rather have them both.



Sebuah film pendek dengan jalan cerita yang Indonesia banget. Tentang perebutan harta warisan. Tapi untungnya tidak dikemas dengan gaya sinetron.


11. SLR

Sebuah film dari British Film Institute. Tentang seorang bapak-bapak yang punya hobi unik; memotret wanita dengan kamera SLRnya untuk kemudian dia upload di dunia maya. Sampai suatu saat sang karma datang ke bapak yang mukanya pasti tidak asing lagi bagi para penggemar Games of Throne.


Sebuah film pendek dengan tone, directing, dan cerita yang Fincher banget. Semoga saja film ini dibuat film panjangnya; dengan arahan dari Fincher.


Sebuah film yang diangkat dari kisah nyata tentang penembakan dan pembunuhan terhadap seorang polisi. Film ini menjadi sangat terasa real karena menggunakan first person POV.


Bencana, wabah, dan kematian tidak mungkin dapat disajikan lebih manis dibandingkan film ini. Dan musik Pampapapapa~~~ akan terus menempel di telinga.


Lagi-lagi sebuah film yang diangkat dari kisah nyata. Dan lagi-lagi berasal dari Australia. Berkisah tentang penembakan yang terjadi di daerah suburban Australia dan diambil dengan menggunakan teknik Single Continuous Shot.


Stop motion yang menggunakan jarum pin ini sangat inovatif dan colorful. Dan hey, credit title yang menarik menjadi nilai tambah.


5. Colera
Film pendek dari Turki yang menunjukkan bahwasanya manusia memang makhluk yang selalu takut dengan perbedaan. Tapi pada akhirnya, tindakan yang kita lakukan suatu saat akan menggigit kita kembali. Watch and learn.


Ahh, mendengar namanya saja sejuta inspirasi langsung hinggap di kepala. Sebuah film yang memberikan tribute kepada aktris kesayangan kita semua.

Sebuah film pendek Hybrid yang menggabungkan animasi dan live shooting. Sebuah pilihan yang sarat akan sentimentilisme(?) karena penulis sangat memahami apa yang akan disampaikan film maker.


2. Sevilla
Sangat susah untuk tidak menyukai Sevilla. Dari tone dan framing gambarnya sampai ceritanya yang mungkin membuat bingung ketika pertama kali menonton. Karena itu menonton berulang-ulang sangatlah dianjurkan.


1.    Process
Apa yang terjadi di dalam pikiran manusia ketika proses berpikir sedang terjadi? Sebuah film dengan premis sederhana namun digarap dengan sempurna sampai ke hati penontonnya pun ia mengena (it rhymes)

Begitulah 14 film pendek teranyar tahun ini. Mungkin kalian akan cerewet dan memprotes kok film XXX gak masuk? Well, mungkin karena film pendek itu banyak diproduksi dalam setahun dan penulis belum sempat menonton. Dan juga film-film dalam list ini sudah bisa ditonton secara gratis dan legal. Hey, beggars can not be choosers. Kecuali yang dimaksud adalah film XXX yang lain, silahkan emailkan saya linknya.

Akhir kata, feel free to drop a comment.
>,<

Minggu, 12 Oktober 2014

[Cerpen] Beth



Tiba-tiba saja aku teringat pada malam-malam saat istriku tidak bisa tertidur saat tubuhnya merasa pegal karena harus mengandung anak kami. Di tengah heningnya malam ia mulai membisikkan pertanyaan. Apa yang terjadi setelah sebuah cerita mencapai akhir? Apakah kehidupan karakter di dalamnya akan terus berjalan? Atau mati setelah sang penulis membubuhkan titik terakhir?
Dan seperti biasanya pertanyaan seperti itu tidak akan pernah terjawab. Otakku yang bodoh ini kadang tidak mampu untuk mencerna pemikirannya. Mungkin itulah salah satu kualitas yang kusukai dari istriku. Dapat membuat lelaki sepertiku menjadi terlihat bodoh di depannya.
Kenangan itu mulai memudar saat kemacetan jalan juga turut memudar saat aku memasuki kompleks perumahan kami. Jalanan tampak lengang seperti kuburan. Matahari mulai terbenam di ufuk barat. Aku membawa mobilku masuk ke dalam garasi. Sambil mencoba mengingat-ingat kapan terakhir aku pulang. Sepertinya sudah tiga hari. Namun terasa seperti tiga dasawarsa saja nampaknya.
Aku terdiam sejenak di dalam mobil. Sambil memikirkan pertanyaan itu lagi. Jika hidup kami adalah cerita dan Tuhan adalah penulisnya, apakah ia masih menuliskan kisah untuk istriku? Walaupun ceritanya sudah tamat dan mencapai titik terakhir? Aneh sekali rasanya membayangkan. Kisahku masih berjalan sementara kisahnya sudah berakhir. Bukannya kami sudah berikrar sehidup semati? Haruskah aku mengakhiri kisahku juga untuk menepati janji tersebut?
Tapi kemudian sebuah suara menyadarkanku dari lamunan. Jeritan tangis yang membuatku bertahan dengan untuk terus melanjutkan hidup. Aku pun menoleh ke arah kursi penumpang di sebelahku yang telah kupasang dengan baby car seat. Kisah istriku mungkin sudah mencapai titik terakhir. Tapi kisah anak kami bahkan belum selesai di bab pertama. Dan sudah tugaskulah untuk menjaganya sampai kisahku sendiri yang akan mencapai titik terakhir.

***

Istriku juga pernah bertanya demikian. Jika semua kata sifat itu relatif, adakah yang mutlak dalam sifat suatu benda atau makhluk hidup? Jujur saja aku tidak mengerti maksud pertanyaannya waktu itu. Tetapi sekarang aku paham benar apa yang ia maksud.
Waktu suster mengajariku cara membuat susu formula di rumah sakit. Ia memberitahuku kalau susunya harus hangat. Jangan panas jangan pula terlalu dingin. Tapi setelah sampai di rumah dan aku mempraktekan hal yang sama. Kulit tanganku mulai melupakan memorinya. Sehangat apakah susu ini harus dibuat?
Bayiku tidak berhenti menangis sedari tadi. Mungkin ia lapar. Atau mungkin ia hanya menangisi nasib buruknya saja yang harus mempunyai ayah seburuk aku. Setelah hampir lima menit aku mencampur air ke dalam botol susu dan mencobainya ke telapak tanganku, aku mulai menyodorkan susu itu ke mulutnya. Khawatir sangat kurasakan. Bagaimana kalau susunya terlalu panas? Atau mungkin terlalu dingin? Mungkin juga botolnya belum steril atau susunya masih menggumpal?
Tapi sepertinya kekhawatiranku tidak beralasan. Ia mulai menyedot susu itu dengan semangat. Mau tak mau aku merasa sedih. Umurnya belum menginjak sebulan dan ia sudah harus meminum susu artifisial seperti ini.
Seketika aku jadi rindu pada istriku. Kata sifat ternyata memang relatif. Rinduku saat ini terasa jauh lebih menyakitkan dibandingkan saat pemakamannya. Walaupun waktu itu aku merasakan rindu yang paling rindu di dalam hidupku. Rinduku kali ini terasa semakin membelenggu.
Diam-diam aku melirik ke arah dinding rumah kami. Dimana semua pigura yang dulunya memajang foto istriku sudah kubalik menghadap dinding. Menyisakan kertas berwarna cokelat yang menghiasi bingkai foto di rumah ini. Aku sendiri lupa kapan aku melakukan hal itu. Kemungkinan saja sehari atau dua hari setelah kematiannya. Yang juga berarti sehari atau dua hari setelah kelahiran anakku.
Sesaat setelah bayiku tertidur dan aku mencoba melakukan hal yang sama. Aku membuka bajuku dan berjalan dalam ketelanjangan menuju kamar mandi. Mencoba membasuh tubuhku yang terasa berkeringat sedari tadi. Tapi tetap saja hangatnya air tak mampu membuat hangat perasaanku yang kutahu sudah dingin membatu.
Istriku menyukai keteraturan. Kalian harus tahu hal itu. Maka ketika ia membelikan satu set piyama berpola sama untukku, dirinya, dan bayi kami. Waktu itu kami hanya tertawa optimis. Mencoba membayangkan kebahagiaan yang akan kami rasakan nantinya. Tapi sekarang, setelah  melihat tiga stel pakaian tersebut. Sesak yang kurasakan di hari kematiannya datang lagi membelitku.
Mungkin aku bisa saja mencoba untuk membalik semua bingkai foto berisi dirinya. Atau tidur hanya memakai celana piyama tanpa memakai baju berpola sama yang ia beli. Tapi ketika aku akan menggosok gigiku, sikat giginya dan milikku masih bertengger di sana. Di gelas plastik tinggi berwarna hijau. Seakan-akan mengejek, ‘hey, kami saja masih berdua. Kasihan sekali kau harus sendiri malam ini’.
Aku tahu butuh waktu untuk tidak merasakan lagi sesak di dalam dadaku. Malam itu, aku tidur tanpa memakai baju ataupun sehelai selimut. Hawa dingin pendingin ruangan membelai tubuhku. Dengan sengaja kupasang mesin itu di suhu terendah. Aku tahu aku akan menggigil kedinginan. Tapi setidaknya rasa sesak itu tidak akan kurasakan karena terkalahkan oleh dingin yang mendekapku dengan kejam.

***

Beratnya hanya tiga koma enam kilo. Dengan panjang empat puluh dua koma tujuh sentimeter. Tapi siapa yang menyangka makhluk sekecil itu mampu mengeluarkan tangisan sekeras hujan badai di musim topan. Sudah beberapa kali aku terbangun mendengar suara tangisnya. Saat itu terjadi aku akan menggendongnya perlahan dan membuainya di gendonganku sampai ia kembali terlelap.
Aku seakan melayang. Ia kembali menangis dan kini aku sedang berjalan mondar-mandir di dapur. Entah sudah berapa kali siklus ini terulang. Mataku seakan digantung dengan batu yang berputar. Tak mampu untuk kubuka. Bayi kami masih menangis saat aku membuka kulkas. Di tengah tumpukkan kotak makanan yang dibawakan teman-temanku, aku mengambil sebotol air dan mulai meneguknya.
Perlu kalian ketahui kalau aku masih menggendong bayi kami dengan satu tangan saat aku meneguk air. Dengan cerobohnya tutup botol itu tergelincir dari tanganku dan jatuh tepat di kepala makhluk kecil itu. Aku panik. Ia mulai menangis dengan keras. Perlu beberapa waktu bagiku untuk menenangkannya. Dan saat ia mulai kembali tenang. Aku menaruhnya lagi di dalam tempat tidur kecilnya. Untung saja aku tidak menyisakan luka di keningnya. Ketika aku benar-benar yakin kalau ia sudah tertidur pulas, aku kembali ke kamarku. Mencoba menyambung tidurku yang sedari tadi terputus.

***


Sudah pukul empat pagi saat aku duduk di ranjangku. Uap dingin tampak menguar dari lantai ruangan ini. istriku dulu pernah berkata kalau kita tidak tidur selama empat hari berturut-turut maka pikiran kita akan mulai memproduksi halusinasi. Sejujurnya aku memang hanya tidur selama dua sampai tiga jam saja sehari. Setidaknya selama sebulan terakhir. Mungkin saja efeknya sama. Aku mulai berhalusinasi sekarang.
Dengan secercah keraguan kuambil bingkai foto kecil yang bertengger di meja yang ada di samping ranjangku. Foto di dalamnya sudah dibalik. Dengan penuh kantuk kukeluarkan foto itu dan kulihat kembali isinya. Sambil bertanya-tanya seberapa besarkah usaha yang perlu kukeluarkan untuk menghapus rindu ini.
Apakah sebesar usahaku untuk menyebut ranjang kami menjadi ranjangku?
Atau bayi kami menjadi bayiku?
Kutekan erat foto itu didadaku. Seakan-akan dengan begitu gambaran dirinya akan terceplak di sana. Tak akan terhapus bahkan saat memoriku menua dan tak mampu lagi mengingat rupa.
Kurasakan kulit punggungku yang telanjang mulai dicumbui kain selimut. Aku menatap langit-langit kamarku. Merasakan dadaku mulai penuh. Entah dengan kelelahan atau emosi yang tak tertahan. Diam-diam, suaramu mulai mengelus telingaku, memanggil-manggil namaku.
“Kenapa kamu pergi?” Tolehku lamat-lamat. Karena di sisiku ia sudah menatap lekat-lekat.
Tapi ia hanya tersenyum. Tanpa membalas pertanyaanku.
“Kenapa?” tanyaku lagi.
“Jika kamu bisa memilih antara aku dan anak kita, manakah yang akan kamu pilih?”
“Jadi, ini adalah pilihanmu?”
Lagi-lagi ia tersenyum, “Aku hanya manusia biasa. Tidak akan mungkin Tuhan memberikan pilihan seperti itu padaku. Tapi kalau memang aku bisa memilih maka inilah pilihanku.”
Aku mengangkat tanganku dan mulai menyentuh pipinya. Dalam hati aku mulai bertanya-tanya, nyatakah ini semua?
“Jika kamu bisa memilih. Apa yang akan kamu pilih?” ia bertanya padaku.
Tapi aku hanya diam. Tak mampu berkata apa-apa.
Dari kejauhan aku mendengar suara bayi yang menangis. Awalnya terasa jauh. Tapi lambat-laun tangisan itu terdengar semakin dekat. Aku menatap dirinya lekat. Menikmati senyuman yang terpancar di matanya.
“Aku mencintaimu,” bisiknya pelan. Muka istriku mendekat. Ia mencium bibirku singkat lalu berkata di telingaku dengan cepat. “Jaga anak kita.”
Sekedip mata ia menghilang. Dan sekedip mata pula tangisan itu mengencang. Perlu beberapa detik bagiku untuk sadar dari apapun yang terjadi barusan dan beranjak untuk menenangkan bayiku.
Ralat, bayi kami.

***

Awalnya aku sangat ragu untuk membawa bayiku pulang. Butuh waktu tiga minggu bagiku, dan para dokter, untuk menyakinkan diri bahwa aku harus membawa bayiku pulang. Aku takut aku tak bisa menjaganya. Atau malah secara tak sengaja bukan tak mungkin aku membunuh bayi ini. Maksudku, umurku belum menginjak seperempat abad. Pengalamanku dalam hidup ini tidaklah terlalu banyak. Aku bahkan tidak yakin dapat menjaga diriku sendiri semenjak kematian istriku.
Ketakutanku semakin menjadi-jadi dan beralasan sekarang. Ia tidak berhenti menangis. Walaupun susu sudah kuberikan dan popoknya sudah kuganti. Aku menggendongnya sambil berjalan mondar-mandir di sekeliling dapurku. Dengan irama yang teratur kuayun tubuh rapuhnya dalam gendonganku. Tapi tetap saja ia tak bergeming.
Dapat kurasakan air matanya mulai mengalir turun di dada telanjangku. Apa yang harus kulakukan? Apa ada yang salah dengan perawatanku sedari tadi? Dapat kurasakan kalau tangisnya mulai mengeluarkan suara kering. Seakan-akan udara di paru-parunya mulai habis. Aku mulai panik, dengan emosi itu semakin kuayun tubuhnya tanganku.
Tapi ia tak juga berhenti menangis. Napasku mulai sesak. Ketakutan yang luar biasa mulai mencengkeramku dengan kejamnya. Ia menangis. Aku pun mulai ikut menangis. Mungkin hanya keheningan malam saja yang tegar menjalani hidup ini. Tanpa adanya tangis dan kesedihan seperti yang kami berdua rasakan.
Entah mengapa tangisku semakin tak terkendali. Aku mulai merebahkan punggungku dan jatuh terduduk. Bodoh sekali sebenarnya, mengapa malah tangisku melebihi tangisnya sekarang. Entah berapa lama aku tersedu-sedu sambil terus mengayunkan tubuhnya saat kusadari kalau hanya tangisku yang terdengar.
Dapat kulihat bahwa hidung bayiku tertutup lendir yang membanjir. Dengan segera aku berdiri dan beranjak ke kamarku, tempat tas bayi yang kubawa dari rumah sakit terletak. Satu tanganku yang bebas bergerak liar mencari alat penyedot ingus. Bahkan aku tak sempat untuk mensterilkannya dulu sebelum aku mulai memakai alat itu.
“Masukkan ke hidungnya pelan-pelan,” ujarku kepada diri sendiri saat aku melakukan hal itu. Lambat-lambat lendir di hidungnya mulai berpindah. Bayiku mulai mengeluarkan suara yang sulit kudeskripsikan. Saat cairan itu sudah berpindah semua, dapat kulihat matanya menatapku lekat. Manik matanya menancap mataku dengan lembutnya.
“Ini ayahmu, Nak,” bisikku. “Ini ayahmu.”

***

Matahari mengintip malu-malu saat aku membawanya ke beranda rumahku. Dalam palungan selimut dan dekapan tanganku aku membawanya melihat matahari pertama di rumah kami.
Entah mengapa aku merasa damai sekarang. Bayiku sedang asyik dibuai mimpi sekarang. Mungkin ia bermimpi bertemu dengan ibunya. “Titipkan salam cintaku padanya, Nak,” bisikku tepat di telinganya.
Ajaibnya ia tersenyum saat aku membisikkan hal itu. Senyumnya bahkan berhasil menular di bibirku. Aku membiarkan bibir mungilnya menyedot ujung telunjukku saat aku mulai bernyanyi. Sebuah lagu yang berjudul sama dengan namanya dan nama ibunya.
Tiba-tiba saja mengetahui jawaban dan alasan dari pertanyaan istriku. Jika aku harus memilih, tentu saja aku akan mengorbankan diriku sendiri agar anak ini lahir. Agar ia mendapat kesempatan untuk bernapas di muka bumi ini. Agar ia dapat menikmati cerahnya hangat mentari dan damainya udara pagi.
Dan saat matahari sudah benar-benar terbangun dari lelapnya. Aku menengadah menatap awan dan berucap dengan penuh rasa sayang, “Terima kasih, Beth!”